Akankah ‘Tragedi’ PAN Terulang di Ummat

Akankah ‘Tragedi’ PAN Terulang di Ummat

Jakarta, Patriot News - Ketika satu persatu tokoh penting di Partai Amanat Nasional (PAN) menjauh dari Pak Amien, masih banyak kader-kader yang membelanya.

Jika disebutkan banyak sekali nama-nama besar, tokoh penting di PAN yang dulu dekat dengan Pak Amien, tetapi kemudian pelan-pelan menjauh. Sebut saja Sutrisno Bachir, Drajat Wibowo, Didik J Rachbini, Hatta Radjasa, Asman Abnur dan terakhir Zulkifli Hasan (Zulhas). Masih banyak lagi nama-nama lain yang dulu dekat dengan Amien Rais kemudian lebih memilih menjauh.

Terakhir Zulhas yang dengan keberaniannya melakukan ‘kudeta’ terhadap kekuasaan Pak Amien di PAN. Padahal hubungan keduanya begitu erat.

Masih terbayang oleh kita begitu dramatisnya Kongres di Kendari waktu itu. Para pendukung fanatik Pak Amien begitu terpukul. Pendukung PAN pun terbelah. Ada yang bertahan di PAN bersama Zulhas sebagai ketua umum dan tidak sedikit pula yang keluar mengikuti jejak Pak Amien.

Karena begitu cintanya kepada Pak Amien, banyak orang-orang keluar dari PAN dan memilih bergabung ikut Pak Amien sampai kemudian Pak Amien mendirikan Partai Ummat. Padahal sebagian besar para tokoh yang keluar itu adalah para pengurus inti PAN di daerah masing-masing.

Sebetulnya, sinyal akan adanya masalah di internal Partai Ummat itu sudah terasa ketika Agung Mozin, Neno Warisman dan yang lain-lain mundur tak lama setelah deklarasi Partai Ummat. Padahal awalnya mereka begitu semangat menyambut berdirinya Partai Ummat. Tetapi kemudian, perbincangan tentang mundurnya kedua tokoh ini pelan-pelan menghilang.

Ketika Partai Ummat lolos verifikasi dan menjadi peserta Pemilu 2024, gelagat akan adanya masalah di DPP Partai Ummat juga mulai tampak ketika beberapa orang yang dulu ‘berdarah darah’ berjuang agar Partai Ummat lolos verifikasi, juga mulai menghilang dan tidak aktif. Nama-nama di DPP datang dan pergi.

Sekarang, gejolak di Partai Ummat sudah muncul ke permukaan dan sudah terlanjur terbuka ke publik. Bahkan, bagi para pejuang yang menamakan groupnya Penyelamat Partai Ummat itu, perjuangan ini adalah pertaruhan, melawan atau menyerah kalah dan keluar dari Partai Ummat.

Dari rangkaian kisah-kisah tadi, satu persatu pertanyaan mengapa kader-kader PAN tega ‘melawan’ sikap Pak Amien dan sekarang sebagian besar kader-kader Partai Ummat juga tega berbeda pandangan dengan Pak Amien, mulai terjawab.

Salah satu alasannya adalah karena Pak Amien lebih mementingkan keluarganya daripada kepentingan partai. Buktinya, untuk memuluskan Ridho Rahmadi sebagai Ketua Umum DPP Partai Ummat, Pak Amien rela mengubah AD/ART Partai secara gagabah dan sembrono. Untuk itu pula Pak Amien rela mengorbankan kader-kader terbaiknya yang dulu ikut melahirkan partai ini.

Kuat dugaan, pilihan Pak Amien yang harus mengubah AD/ART secara sepihak itu, sepertinya ada kekhawatiran tragedi PAN di Kendari akan terulang. Pak Amien khawatir, orang yang dia harapkanjadi ketua umum justru tidak terpilih.

Tapi sayangnya, cara yang dilakukan majelis syura mengubah AD/ART itu, dilakukan secara sepihak, tidak prosedural, tidak transparan, tidak melibatkan unsur di wilayah dan daerah, sehingga sekarang membuat Pak Amien dalam posisi yang sulit.

Kalau saja, rencana untuk mengubah AD/ART itu melibatkan semua unsur pengurus di wilayah dan daerah mungkin situasinya tidak seburuk ini.

Sekarang prosesnya sudah berjalan. Bagi Pak Amien ada dua pilihan. Pilihan pertama, bertahan dengan sikapnya dengan menjadikan AD/ART yang diubah secara sepihak dan mempertahankan Ridho Rahmadi sebagai Ketua Umum atau pilihan kedua, mengalah dengan mendengarkan suara dari para pejuang Partai Ummat, sehingga para kader partai dapat bersatu dan bersemangat lagi untuk berjuang agar lolos pada Pemilu 2029 dan nama besar Pak Amien akan tetap terjaga. (ab)