Dua Contoh Relasi Kekuasaan Dengan Kekerabatan Dalam Islam Sejarah
Oleh : Nazaruddin.
Yogyakarta, Patriot News - Khalifah Umar mungkin bisa disebut sebagai contoh "ekstrem kiri" dalam memposisikan kekuasaan relasinya dengan memposisikan kerabatnya. Masyhur diceritakan bagaimana ketika Khalifah Umar ditemui oleh anaknya, sebelum melanjutkan pembicaraan, beliau bertanya, yaang akan kamu bicarakan urusan negara atau keluarga? Jika urusan keluarga, maka penerangan yang ada di ruangan ini akan aku matikan, karena itu menggunakan uang negara. Betapa ketatnya Umanar untuk menjaga agar keluarganya tidak bisa seenaknya memanfaatkan Kekuasaan yg ada pada dirinya.
Peristiwa lainnya yang juga cukup masyhur adalah ketika beliau setelah ditikam dan memderita sakit yg parah, beliau membentuk "Dewan Ahli" untuk memilih dan menunjuk penggantinya yang terdiri dari para sahabat senior dan di dalamnya ada anaknya Abdullah bin Umar, dengan pesan bahwa Abdullah bin Umar tidak boleh dipilih dan ditunjuk sebagai khalifah. Betapa Umar juga memberikan contoh agar anaknya tidak ditunjuk menggantikan dirinya, terlepas anaknya itu mampu atau tidak. Sejarah menginformasikan kepada kita bahwa Abdullah bin Umar adalah salah satu sahabat yang soleh , cerdas dan kapabel.
Khalifah Ustman mungkin bisa disebut sebagai contoh "ekstrem kanan" dalam memberikan contoh bagaimana menempatkan kekuasaan relasinya dengan memposisikan kerabatnya.
Masyhur disampaikan dalam kitab-kitab tarikh, Khalifah Ustman begitu murah hati kepada para kerabatnya. Kerabatnya dari Bani Ummayah banyak menerima pemberian khalifah dari Baitul Mal. Para kerabatnya dari Bani Ummayah banyak diberikan kedudukan yg terhormat dalam pemerintahannya. Para Gubernur yang diangkat oleh Khalifah Umar banyak yang diganti dari kalangan Bani Ummayah.
Salah satu kerabatnya, Marwan bin Hakam, orang yang di zaman Rasulullah, bersama ayahnya dihukum untuk tidak boleh tinggal di dalam kota Madinah, karena sering mengejek meniru prilaku Nabi, kembali diizinkan tinggal di dalam kota Madinah. Di zaman Khalifah Abu Bakar dan Umar, Ustman beberapa kali pernah memohonkan ampunan untuk Marwan, tapi ditolak oleh Khalifa Abu Bakar dan Umar.
Dan kemurahan hati Khalifah Ustman terhadap kerabatnya yang mengejutkan adalah, Tanah Fadak yang dahulu dituntut oleh Fatimah Azzahra putri Nabi sebagai hak warisnya yang kemudian ditolak oleh Khalifah Abu Bakar berdasarkan pemahamannya terhadap perkataan Nabi, bahwa Nabi tidak meninggalkan waris, diberikan kepada Marwan. Dan puncaknya Marwan diangkat sebagai Mentri Utama atau Perdana Mentri. Marwan kemudian memainkan peranan penting dan kunci dalam pemerinatahan Ustman.
Apakah Umar dan Ustman telah bersikap yang terlalu berlebihan terhadap para kerabatnya ketika sedang berkuasa? Jawabnya mungkin ya. Sebagai sahabat-sahabat utama Nabi yang telah banyak membantu Nabi dan berbuat untuk agama dan umatnya, tentu kita tidak berpretensi bahwa Umar telah berbuat aniaya terhadap keluarganya. Dan Ustman telah berbuat zalim kepada umat, karena terlalu mengutamakan keluarganya.
Mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya menyakini telah mengamalkan ajaran Rasulullah. Menjaga akses keluarga terhadap kekuasaan itu ajaran Nabi. Mengutamakan kerabat dan menjamin nafkahnya juga merupakan ajaran Nabi. Pemahaman mereka sebagai kalangan periode awal dalam mengapresiasi ajaran-ajaran Nabi tentu ada kelebihan dan keterbatasannya. Diantaranya cenderung literal dan tidak kontekstual. Tugas kita yg hidup di era sekarang ini untuk mengambil hikmah dan pelajaran dari Islam Sejarah.
Khalifah Umar dan Ustman sama-sama terbunuh di akhir kekuasaannya. Umar meninggalkan tauladan dan legacy yang banyak, diantaranya kejayaan kekhalifaan, kemakmuran dan pemerintahan yg bersih. Ustman juga banyak meninggalkan tauladan dan legacy, diantaranya kemakmuran, perluasan wilayah dan mushaf Al Qur'an. Namun sayangnya juga meninggalkan Fitnatul Qubro.
Sejak terbunuhnya Ustman, di masa kekhalifaan Ali bin Abi Thalib, Mua'wiyah, Bani Ummayah, Bani Abbasyiah dan sererusnya, umat tercabik-cabik dalam perpecahan. Namun seiring dengan itu, Islam terus tumbuh berkembang menjadi penguasa dunia, sebelum akhirnya jatuh dan terpuruk. (Penulis adalah Sejarawan Islam). (ril)




























