REFLEKSI 4 TAHUN PARTAI UMMAT : Tarikan Nafas Yang Berat Diujung Tenggorokan
Oleh : Dwi Kuswantoro (Ketua DPW Partai Ummat DIY)
Hampir setiap tahun kami bersama sahabat pengurus, kader dan simpatisan se-Daerah Istimewa Yogyakarta merayakan kelahiran Partai Ummat. Saat pandemi covid-19 pun kami rayakan dengan gempita biarpun secara daring. Menjelang Pemilu 2024 kami juga merayakan tapi mengambil bukan bulan Hijriyah (17 Ramadhan) tapi menggunakan tahun Masehi (24 April) sekaligus syawalan dan konsolidasi menjelang Pemilu 2024.
Tahun ini kami bingung mau pakai 17 Ramadhan ternyata sudah dipakai oleh DPP yang mengadakan hajatan Milad dengan mengundang sahabat se-Indonesia tapi kami gak ada undangan. Atau memakai 24 April 2025 pun juga bingung, apa masih boleh kami mengadakan perayaan milad sedangkan menurut Musyarawah Majelis Syuro 16 Februari 2025 kami semua sudah dibubarkan.
Semakin bingung lagi, saat kemarin ditanya pada saat mengundang silaturahmi sahabat DPD se- DIY, ada pertanyaan apa kita masih pengurus Partai Ummat. Katanya semua pengurus sudah dibubarkan. Yang ada hanya satu ketua umum saja yang jadi pengurus tunggal seluruh Indonesia.
Kebingungan dan kelinglungan semakin menjadi-jadi, setelah ada kabar bahwa semua pengurus akan diangkat Pelaksa Tugas (PLt). Tapi ada syaratnya yang tunduk dan patuh kepada keputusan Majelis Syuro dan berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD,ART) yang baru.
Lhoh bukannya kalau Partai Politik harus tunduk kepada UU No. 2 tahun 2011 tentang Parpol, dimana AD,ART harus disyahkan paling lambat 30 hari setelah dilaksanakan perubahan. Lah ini mau pakai AD/ART yang baru tapi kok sudah lewat waktu pengesahan dan belum disahkan juga, tapi jadi pijakan pembentukan pengurus dan pengambilan keputusan organisasi.
Ada kawan yang bilang aturan PLt berlaku internal saja..ah semakin bingung dan linglung saja nalar tata organisasi yang pernah aku kenyam aktif organisasi dari tingkat masjid, kampung sampai organisasi tingkat pusat.
Batu Ujian Lanjutkan atau Tutup Buku
Merefleksikan empat tahun perjalanan Partai Ummat, menjadi serasa melankolis. Dimana ingat bagaimana calon legislatif Partai Ummat di Dapil 1 Kota Yogyakarta demi memperkenalkan diri memfotokopi gambar partai dan gambar caleg dan menempelkan foto ke kardus yang kemudian dibungkus plastik.
Menetes mata ini kalau ingat perjuangan sahabat Agung Riyanto tutup usia dalam medan juang sebagai ketua DPD Partai Ummat Kota Yogyakarta beriringan dengan istrinya dan meninggalkan anak-anaknya yang yatim piatu. Sedangkan yang bersangkutan selang dua pekan sebelum meninggal masih rapat partai bareng.
Juga pak Zainudin ketua DPD Kulon Progo yang Allah SWT panggil dalam medan juang persiapan verifikasi peserta Pemilu 2024.
Kekisruhan karena ambisi dan bertindak sopo siro, sopo ingsun (siapa saya siapa kamu), menjadikan ketidak pastian keberlanjutan Partai Ummat. Perumpamaan tarikan nafas, nafas saat ini kok rasa-rasanya ada sumbatan diujung tenggorakan dan terasa beban berat didada. Apa iya, betul-betul Partai Ummat akan tutup buku tahun ini, karena ego kekuasaan menghilangkan akal budi; dengan menghalalkan segala cara dengan gaya politik Machiavellian yang ditandai dengan kelicikan, kepalsuan, dan itikad buruk. (ril)




























