Muhammad Abduh : Purifikasi dan Pembaharuan Islam
Oleh: Nazaruddin
Muhammad Abduh (1849-1905 M) adalah salah satu ulama dan pemikir terbesar di dunia Islam pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ia dikenal sebagai pelopor modernisme Islam yang gagasannya memiliki dampak signifikan terhadap purifikasi dan pembaharuan pemikiran Islam, khususnya di Mesir dan bahkan hingga ke dunia Islam secara luas, termasuk Indonesia. Abduh lahir di Mahallat Nashr, Provinsi Buhaira, Mesir, dan memiliki silsilah keturunan Turki dari ayahnya dan Umar bin al-Khattab dari ibunya.
Latar Belakang Pemikiran Abduh
Kondisi umat Islam di masa hidup Abduh ditandai oleh kemunduran dan kejumudan. Masyarakat Islam banyak terperangkap dalam praktik keagamaan yang keliru, sikap taklid buta terhadap pendapat ulama klasik, serta jauh dari semangat ijtihad dan rasionalitas. Perjumpaannya dengan Jamaluddin al-Afghani memberikan pengaruh besar dalam membentuk pemikiran pembaharuan Abduh. Ia melihat bahwa kemunduran ini disebabkan oleh masuknya berbagai bid'ah dan kurangnya pemahaman terhadap ajaran Islam yang murni.
Gagasan Purifikasi Islam (Pemurnian Ajaran)
Purifikasi atau pemurnian ajaran Islam menjadi salah satu pilar utama gagasan Abduh. Ia berpendapat bahwa umat Islam harus kembali kepada ajaran Al-Qur'an dan As-Sunnah yang murni, membebaskan pemikiran dari belenggu taklid buta, dan mengembalikan peran akal dalam memahami agama. Abduh mengkritik keras ulama-ulama yang menimbulkan paham taklid dan bersikap jumud, yang dianggap menghalangi kemajuan umat. Baginya, iman yang sejati tidaklah sempurna jika tidak didasarkan atas akal dan keyakinan, bukan sekadar pendapat atau tradisi.
Pembaharuan dalam Berbagai Bidang
Selain purifikasi, Abduh juga menggagas pembaharuan dalam berbagai aspek kehidupan umat Islam:
● Pembaharuan Pendidikan: Abduh sangat prihatin dengan sistem pendidikan Islam yang saat itu bersifat dikotomis, memisahkan ilmu agama dan ilmu umum. Ia mengusulkan kurikulum yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan filsafat dengan pelajaran agama, menekankan pemahaman daripada hafalan, dan mendorong pemikiran kritis serta rasional. Abduh juga memperjuangkan pendidikan universal bagi semua anak, laki-laki maupun perempuan, serta mendirikan sekolah-sekolah untuk menghasilkan tenaga ahli di berbagai bidang. Semasa menjabat sebagai Mufti Besar Mesir (1899-1905), ia juga membawa perubahan dan perbaikan signifikan di Universitas Al-Azhar.
● Rasionalitas dan Ijtihad: Abduh sangat menghargai peran akal (rasionalitas) dalam memahami Islam. Baginya, Al-Qur'an berbicara tidak hanya kepada hati tetapi juga kepada potensi akal manusia. Ia berpendapat bahwa pintu ijtihad harus dibuka kembali agar umat Islam dapat menjawab tantangan zaman dengan pemikiran yang dinamis. Islam, menurut Abduh, adalah agama yang rasional dan tidak bertentangan dengan sains modern.
● Hukum Sosial yang Dinamis:
Abduh mengemukakan bahwa hukum yang menyangkut peribadatan kepada Tuhan tidak dapat berubah, namun hukum sosial Islam dapat mengalami perubahan substantif sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Ia berfokus pada perbaikan hukum Islam yang relevan dengan kemaslahatan umat.
Pengaruh Muhammad Abduh
Gagasan-gagasan Muhammad Abduh menyebar luas dan memiliki pengaruh mendalam di dunia Islam. Majalah Al-Manar, yang didikte oleh Abduh dan kemudian diterbitkan oleh murid setianya, Rasyid Ridha, menjadi corong penyebaran pemikirannya. Ide-idenya menjadi rujukan bagi para tokoh pembaharu di berbagai negara Islam, memicu munculnya gerakan-gerakan modernisasi di bidang pendidikan dan keagamaan.
Di Indonesia, pengaruh Abduh sangat terasa, terutama pada gerakan-gerakan pembaharuan Islam seperti Muhammadiyah yang didirikan oleh Ahmad Dahlan. Konsep pendidikan tanpa dikotomi, penekanan pada ijtihad, dan semangat kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah murni adalah warisan pemikiran Abduh yang terus hidup dan berkembang di Nusantara.
Muhammad Abduh, melalui upaya purifikasi dan pembaharuannya, telah berhasil membangkitkan kembali semangat intelektual dan reformasi di kalangan umat Islam, meletakkan dasar bagi kebangkitan dan kemajuan peradaban Islam di era modern. Semangat ijtihadnya dan penekanannya pada akal serta pemurnian ajaran tetap menjadi relevan hingga saat ini dalam menghadapi berbagai problematika kontemporer.




























