Penetapan Awal Ramadhan Muhammadiyah Memiliki Dasar yang Kuat  

Penetapan Awal Ramadhan  Muhammadiyah Memiliki Dasar yang Kuat   

Jakarta, Patriot News -  Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan,  dalam menetapkan awal Ramadhan, 1 Syawal dan bulan Dzulhijah,  Muhammadiyah menggunakan  metode hisab wujudul hilan yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dengan penjelasan yang sangat kuat.

“Metode hisab wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah itu kokoh dengan dasar Alquran dan Hadits ditambah ijtihad,” ujar Haedar Nashir dalam keterangan persnya di Jakarta, Senin (6/2).

Haedar mengatakan,  pengambilan keputusan itu sungguh memiliki dasar diniyah, dasar keagamaan yang kuat. “Tidak betul kalau itu bersifat rasionalitas ilmu semata-mata. Jadi kuat dasar diniyahnya, keagamaannya. Di dalamnya ada syariahnya, dan juga kuat dalam ilmu pengetahuan dan penggunaan rasionalitas serta berbagai aspek keilmuan lainnya," tegasnya.

Karena itu, Haedar menuturkan, ijtihad yang diambil Muhammadiyah dengan wujudul hilal adalah ijtihad yang dapat dipertanggungjawabkan secara keagamaan, keilmuan, dan bahkan kepentingan maslahat umum.

"Jadi kuat dasar keagamaannya tetapi, tapi juga kuat dalam ilmu dan penggunaan rasionalitas, serta berbagai aspek keilmuan lainnya. Dengan demikian ijtihad yang diambil Muhammadiyah adalah ijtihad yang dapat dipertanggungjawabkan secara keagamaan, secara keilmuan, bahkan dalam kepentingan kemaslahatan umum," jelasnya.

Sebagaimana diketahui, PP Muhammadiyah sudah menetapkan 1 Ramadhan 1444 H jatuh pada Kamis 23 Maret 2023. Sedangkan 1 Syawal 1444 H atau Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Jumat 21 April 2023.

"Dengan keputusan ini, warga Muhammadiyah punya rujukan pasti dari jauh sebelumnya, dan akan mengikuti, memedomani apa yang telah menjadi keputusan PP Muhammadiyah," kata Haedar Nashir.

Haedar Nashir menambahkan,  penetapan jatuhnya awal Ramadhan pada 23 Maret 2023, kemungkinan akan sama di seluruh wilayah Indonesia. Namun, untuk 1 Syawal 1444, dimungkinkan akan mengalami perbedaan.

Hal ini dikarenakan adanya perbedaan metoda yang dipakai. Meski begitu, kata Haedar, perbedaan tersebut bukan merupakan hal yang baru dan seluruh umat harus saling menghargai dan menghormati atas perbedaan yang ada.

"Maka selalu yang jadi komitmen Muhammadiyah, kita saling menghargai, menghormati, toleran dengan perbedaan. Sehingga, perbedaan itu jangan dianggap sebagai sesuatu yang baru. Artinya kita sudah terbiasa dengan perbedaan dan timbul penghargaan dan kearifan," lanjut Haedar.

Dengan adanya perbedaan, Haedar juga berpesan, jangan dijadikan sebagai sumber perpecahan yang membuat umat Islam dan warga bangsa menjadi retak. Dengan begitu, melalui penetapan-penetapan tersebut, diharapkan dapat dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan ibadah dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

"Jangan dianggap sebagai sumber perpecahan, sebagai sumber yang membuat kita retak. Karena ini menyangkut ijtihad yang menjadi bagian dari denyut nadi perjuangan perjalanan sejarah umat Islam, yang satu sama lain saling paham, saling menghormati, dan saling menghargai. Lebih jauh lagi inti dari semuanya ibadah," kata Haedar. (ab)